NAMA ;ARDIAN FAZRI (F1C111O05)
PRODI ; S1 KIMIA
MATAKULIAH ;
KIMIA ORGANIK FISIK
DOSEN ;
Dr. Syamsurizal
NAMA KELOMPOK
§
TIFFANI APRILIANTI (F1C111002)
§
TUTI FITRIYANI ( F1C111037)
§
CANDRA ADI P. (F1C111027)
SOAL
1.
Sebagai orang
kimia, anda tentu mengenal TNT, yaitu bom yang banyak digunakan dalam medan perang. Kalau senyawa ini
dibuat jelaskan bagaimana cara mengontrol
laju reaksi dan sekaligus mengontrol termodinamikanya. Kemukakan pula pendekatan kimia untuk mengendalikan kemungkinan
terjadinya ledakan.
2. Reaksi-reaksi radikal bebas lazimnya sukar dikontrol untuk mendapatkan suatu produk tunggal dalam jumlah banyak. Kemukakan apa saja upaya yang dapat anda lakukan untuk mengendalikan laju propagasi reaksi, berikan contohreaksinya.
3. Soal ini khusus dijawab oleh
teman saudara yang mengatakan bahwa pembentukan karbon karbon terjadi melalui
reaksi radikal bebas. Berikan contoh kongkrit sekurang kurangnya tiga jenis
reaksi kimia pembentukan karbon melalui reaksi radikal bebas.
4. Buatlah senyawa
3-metil heksanol dengan menggunakan senyawa etana sebagai bahan dasar.
5. Jelaskan peran kimia organik fisik dalam menjelaskan kemudahan suatu senyawa organik mengalami sublimasi. Berikan contoh senyawa organiknya.
JAWABAN;...
1.
Dimana
Untuk mendapatkan produk dengan laju reaksi maksimal dan sestabil- stabilnya maka suhu yang harus di
kontrol, apabila konsentrasi rendah maka suhu harus
dinaikkan dan begitu juga sebaliknya apabila konsentrasi tinggi maka suhu harus diturunkan agar tumbukan antar molekul
tidak sering terjadi, dan apabila tumbukan
sering terjadi atau konsentrasi dan suhu tidak sesuai dengan termodinamika yang disebutkan hal inilah yang akan
dapat mengakibatkan terjadinya ledakan, begitu juga
dengan suhu dan tekanan , jika apabila suhu tinggi dan tekanan tinggi ada hal lain yang harus di perhatikan yaitu Volume,
ketika suhu dan tekanan tinggi maka volume
harus di perbesar agar tumbukan antar molekul tidak sering terjadi apabila pada suhu dan tekanan tinggi dengan volume kecil
hal ini juga dapat mengakibatkan terjadinya
ledakan.
Kemukakan pula pendekatan kimia
untuk mengendalikan kemungkinan terjadinya ledakan.
Ø Aplikasi
TNT paling umum digunakan untuk bahan peledak dan
industri aplikasi militer. Hal ini dinilai karena ketidakpekaannya terhadap
shock dan gesekan, yang mengurangi risiko ledakan disengaja. TNT meleleh pada
80°C (176°F), jauh di bawah suhu di mana ia akan meledak secara spontan,
sehingga aman bila dikombinasikan dengan bahan peledak lain. TNT tidak menyerap
atau larut dalam air, yang memungkinkan untuk digunakan secara efektif dalam
lingkungan basah. Selain itu, cukup stabil bila dibandingkan bahan peledak
tinggi lainnya.
Meskipun TNT tersedia dalam berbagai ukuran (misalnya
250 g, 500 g, 1.000 g), namun lebih sering ditemui dalam campuran dengan bahan
peledak lain/ditambah bahan lainnya. Contoh campuran bahan peledak yang
mengandung TNT meliputi:
Ø
Amatol
Amatol adalah highly
explosive material yang terbuat dari campuran TNT dan ammonium
nitrat . Amatol digunakan secara luas selama Perang Dunia I dan Perang Dunia
II. Ia akhirnya digantikan dengan alternatif lain seperti Torpex dan Tritonal.
Biasanya, Amatol digunakan sebagai bahan peledak dalam
senjata militer seperti pesawat bom, peluru dan ranjau laut.
Amatol saat ini dikenal dengan nama amonite, dengan
komposisi 20% TNT dan 80% amonium nitrat.
Ø
Ammonal
Ammonal adalah bahan peledak
(explosive) yang terdiri dari Amonium Nitrat 58,6% Aluminium 21% 2,4%
Trinitrotoluena 18%. Fungsi amonium nitrat sebagai senyawa oksidator dan
aluminium sebagai peningkat daya.
Ø
Ednatol
Ednatol adalah bahan peledak
(explosive) yang terdiri dari 58% ethylenedinitramine dan 42% TNT. Dikembangkan
di Amerika sekitar tahun 1935 dengan kecepatan detonasi 7.400 meter per detik.
Ø
Octol
Octol adalah bahan peledak yang biasa dipakai sebagai
hulu ledak dalam peluru kendali.
Dua formulasi umum yang digunakan dalam Octol:
70% HMX & 30% TNT
75% HMX & 25% TNT
Ø
Minol
Minol adalah bahan peledak
(explosive) yang dikembangkan pada awal Perang Dunia II dan biasa digunakan
untuk senjata bawah air (ranjau laut atau torpedo laut).
Empat tipe komposisi Minol:
- Minol-1: 48% TNT, 42% ammonium
nitrat dan 10% bubuk aluminium.
- Minol-2: 40% TNT, 40% ammonium
nitrat dan 20% bubuk aluminium.
- Minol-3: 42% TNT, 38% ammonium
nitrat dan 20% bubuk aluminium.
- Minol-4: 40% TNT, 40% ammonium
nitrat & bubuk potassium nitrat (90/10) dan 20% bubuk aluminiumium.
Ø
Torpex
Torpex adalah bahan peledak
(explosive) yang digunakan dalam Perang Dunia II. Nama ini merupakan singkatan
dari Torpedo dan Explosive. Torpex umum digunakan
sebagai senjata bawah air.
(TUTI FITRI YANI)
2.
Karena dalam tahap ini terjadi reaksi adisi molekul monomer pada radikal
monomer yang terbentuk dalam
tahap inisiasi
Bila proses dilanjutkan, akan terbentuk molekul polimer
yang besar, dimana ikatan rangkap
C= C dalam monomer etilena akan berubah menjadi ikatan tunggal C – C pada polimer polietilena
Antioksidan primer
bereaksi dengan radikal peroksi, selanjutnya akan dirubah dalam bentuk
konversinya yang lebih stabil dan nonradikal. Antioksidan primer mendonasikan
atom hidrogen ke lemak radikal dan menghasilkan turunan lemak dan radikal
antioksidan (A•) yang lebih stabil dan mempunyai kemampuan lebih
rendah pada proses autooksidasi. Antioksidan mempunyai afinitas lebih tinggi
untuk mendonorkan hidrogen terhadap radikal peroksi dibandingkan lemak. Radikal
bebas dan radikal peroksi yang terbentuk selama tahap propagasi pada proses
autooksidasi ditangkap oleh antioksidan primer. Antioksidan kemungkinan juga
bereaksi langsung dengan radikal lemak.
Hasil radikal
antioksidan oleh donasi hidrogen mempunyai reaksi sangat rendah terhadap lemak.
Reaksi yang rendah akan mengurangi laju tahap propagasi. Radikal antioksidan
yang stabil disebabkan oleh penempatan kembali elektron yang tidak bisa
diperbaiki pada sekitar cincin fenol dengan stabilitas resonansi. Radikal
antioksidan mempunyai kemampuan dalam reaksi terminasi dengan peroksi, oksi dan
radikal antioksidan yang lainnya. Pembentukan dimerisasi antioksidan yang
menonjol dalam lemak dan minyak dan mengindikasikan bahwa kecepatan radikal
antioksidan fenol pada reaksi terminasi. Efektifitas mekanisme autokatalik
ikatan radikal bebas akan berhenti sepanjang keberadaan antioksidan dalam
bentuk nonradikal.
Ion-ion logam dapat
mengkatalis reaksi pembentukan radikal bebas. Ion-ion logam tersebut misalnya
Fe, Cu, Mn, Cr, Ni, V, Zn dan Al. Proses
oksidasi yang dikatalisasi oleh ion-ion logam melalui 2 mekanisme yaitu reaksi
ion-ion logam dengan hidroperoksida atau dengan molekul lipida. Ion-ion logam mengkatalisasi proses oksidasi dengan
reaksi langsung dengan lipida tidak jenuh dan menurunkan energi aktivisi pada
tahap inisiasi .
(TUTI FITRI YANI)
3.
Reaksi
radikal bebas
Radikal bebas merupakan atom atau grup atom yang memiliki sebuah elektron tidak berpasangan/ bebas. Reaksi substitusi radikal bebas merupakan reaksi yang berhubungan dengan radikal bebas. Radikal bebas dibentuk jika ikatan terbelah menjadi dua yang sama-sehingga setiap atom mendapat satu dari dua elektron yang dipakai untuk berikatan. Disebut juga sebagai pembelahan homolitik.
Untuk menunjukkan sesuatu (atom atau grup atom) merupakan radikal bebas, dituliskan dengan simbol titik untuk menunjukkan elektron yang tidak berpasangan. Sebagai contoh:
Radikal bebas merupakan atom atau grup atom yang memiliki sebuah elektron tidak berpasangan/ bebas. Reaksi substitusi radikal bebas merupakan reaksi yang berhubungan dengan radikal bebas. Radikal bebas dibentuk jika ikatan terbelah menjadi dua yang sama-sehingga setiap atom mendapat satu dari dua elektron yang dipakai untuk berikatan. Disebut juga sebagai pembelahan homolitik.
Untuk menunjukkan sesuatu (atom atau grup atom) merupakan radikal bebas, dituliskan dengan simbol titik untuk menunjukkan elektron yang tidak berpasangan. Sebagai contoh:
|
|||||
Reaksi pembentukan karbon radikal bebas
1.
Reaksi antara atom karbon
2.
Reaksi senyawa styrene menjadi polystyrene]

3.
Reaksi antara metil
CH3. + CH3. CH3 – CH3
(ARDIAN FAZRI)
4.
Sublimasi adalah salah
satu pemisahan zat-zat yang mudah menyublim.perubahan wujud zat padat ke gas atau dari gas ke padat. Bila partikel penyusun suatu zat diberikan kenaikan suhu maka partikel
tersebut akan menyublim menjadi gas, sebaliknya
jika suhu gas tersebut diturunkan maka gas akan segera berubah wujudnya menjadi panas. Gas yang dihasilkan
ditampung lalu didinginkan kembali. Syarat pemisahan
campuran pada sublimasi adalah partikel yang bercampur harus memiliki perbedaan titik didih yang besar sehingga
kita dapat menghasilkan uap dengan tingkat kemurnian
yang tinggi. Begitupun syarat sampel untuk sublimasi adalah dengan sifat kimia mudah menguap agar mudah proses
sublimasinya.
Contohnya adalah naftalen. Pemurnian
naftalen dengan menggunakan proses sublimasi
dikarenakan karena sifat naftalen yang mudah menyublim dan merupakan padatan Kristal yang tak bewarna
(Riswiyanto,2003). Reaksi dari naftalen berlangsung
dengan sangat cepat. Hal ini disebabkan
zat padat dalam proses sublimasi mengalami
proses perubahan langsung menjadi gas tanpa melalui fase cair, kemudian terkondensasi menjadi padatan atau
kristalkembali. Sehingga dalam proses sublimasi, naftalen tidak berubah menjadi senyawa lain, hanya beubah
bentuk (fase) dari padat ke gas. (TIFFANI APRILIANTI)
1.


CH3 - CH2+
+ CH3 – CH2 – CH2 – CH –OH CH3–CH2-CH2-CH2-CH2–CH2-OH
+ CH3-OH




